Welcome in my blogg :D Welcome in My Blog "Intel preview"... Welcome in My Blog "Intel preview"... Welcome in My Blog "Intel preview"... Welcome in My Blog "Intel preview"...Welcome in My Blog "Intel preview"... Welcome in My Blog "Intel preview"... Welcome in My Blog "Intel preview"...

Categories

Minggu, 16 Desember 2012

ZAMAN “ASU ENAK” BENAR SALAH HAMPIR SAMA


Melihat kondisi manusia sekarang ini membuat kita ‘makan hati’ sendiri. Bagaimana bisa? Karena setiap membicarakan tema ini kita serasa harus mengernyitkan dahi untuk menilai fakta dan realita.  Setiap saat kita disodorkan berita-berita yang negative, seperti pemerkosaan, pembuangan bayi “cepret”,  koruptor yang diusut, koruptor yang selamat, takut terjerat kasus korupsi, dan segala macemnya. Ironisnya hal itu selalu saja menjadi topic yang seolah sudah tak baru lagi di masyarakat, tak tabu lagi, sudah biasa, (njelehi). Orang sudah tidak merasa aneh, takjub, kaget, atau bahkan merasa nyiyir ngeri, tapi sudah biasa, itulah jaman sekarang, jaman “asu enak” zaman di mana  orang sudah tidak lagi melihat benar dan salah,  halal dan haram sebagai sesuatu yang berbeda.

Sudah barang tentu korupsi adalah merampas hak rakyat, dengan kata lain haram, tetapi sekarang ini korupsi sudah menjadi barang halal, buktinya para pejabat sering merasa bahwa uang rakyat itu, harus kembali ke rakyat tapi harus melalui partai. Atau mereka berpendapat kalau partai itu juga rakyat, jadi berhak memakan uang rakyat seberapapun besarnya. Makanya anggota partai yang sekarang menduduki jabatan bendahara maupun wakil bendahara partai sering mendapatkan tempat strategis dalam hal uang, contohnya adalah Badan Anggaran DPR.
Sudah barang tentu menipu itu gak boleh, akan tetapi orang menganggap itu sebagai hal yang sudah biasa demi sesuap nasi, pernah penulis mendapat cerita,  dulu pernah ada seorang pengemis di suatu tempat yang merengek belum makan seharian. Nah, karena merengeknya belum makan ada orang yang mengasih nasi bungkus, apa reaksinya? Pengemis itu malah tidak berterimakasih tapi justru menggerutu, karena yang diinginkan ternyata uang bukan makanan. 
Sudah barang tentu berzina itu haram, tapi kita sekarang ini merasa tidak asing dengan orang yang berpacaran, mesum di tempat-tempat gelap dan sepi, bahkan secara fullgar praktek mesum dihadirkan di tv-tv di film-film Indonesia, yang memang laris manis. Membicarakan video porno di tempat umum sudah biasa, “semua orang sudah tahu jadi gak perlu malu” seolah kalimat itu yang menenangkan orang-orang itu. Anggota dewan ketahuan membuka gambar mesum, sudah biasa, itu yang menghibur mereka saat letih pikiran karena memikirkan rakyat. 
Benar dan salah sekarang ini menjadi dua hal yang hapir sama, orang mengatakan suatu hal yang benar tapi dianggap salah oleh orang lain. Orang merasa dirinya benar sendiri, tapi menurut banyak orang yang lain mereka salah. Contohnya, para teoris, mereka adalah orang yang paling disalahkan oleh semua orang, bahkan lebih ekstrim lagi semua orang mungkin telah mengutuknya. Akan tetapi pernahkah kita berpikir kalau mereka justru merasa benar atas perbuatannya sendiri itu.
Pada dasarnya benar dan salah memang sifatnya nisbi atau tidak mutlak. Akan tetapi perlu diingat bahwa seluruh perbuatan yang merugikan orang lain adalah perbuatan yang salah, seluruh tindakan yang menyangkut hak orang lain harus dibicarakan dengan orang yang bersangkutan itu.  Korupsi adalah perbuatan yang merugikan orang lain, maka korupsi merupakan perbuatan yang salah. Ini sudah jelas, akan tetapi masih ambigu lagi ketika orang menganggap bahwa tidak semua tindakan menggunakan uang rakyat untuk pribadi itu salah. Mereka beranggapan kalau itu sudah menjadi hak milik mereka sebagai pelayan masyarakat. Pendapat-pendapat seperti inilah yang akan emmbuat bangsa ini hancur, karena semua orang akan menganggap merugikan orang lain dengan konsepnya sendiri adalah benar.